Dikhawatirkan Rusuh
Singaraja (Bali Post) -Meski sempat dikhawatirkan rusuh akibat dampak
dari ketegangan antara kelompok warga Banyuning dan Peguyangan, ternyata
pelaksanaan lomba gerak jalan dewasa putra yang menempuh jarak 45
kilometer, Sabtu (11/8) tengah malam hingga Minggu (12/8) pagi kemarin
berjalan lancar. Meski begitu, aparat keamanan dari TNI dan Polres
Buleleng tetap sibuk melakukan pengawalan dan pengamanan secara ketat
untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrok antarpeserta atau
antarsuporter dalam lomba tersebut.
Lomba gerak jalan itu dimulai dari Lapangan Busungbiu yang diikuti 21
regu dari kalangan pelajar, mahasiswa dan kelompok pemuda. Rute dibagi
menjadi tiga etape. Etape pertama start di Lapangan Umum Desa Busungbiu,
etape kedua dari Lapangan Desa Seririt dan etape ketiga start di
Terminal Kargo Jalan A. Yani Singaraja, kemudian finis di depan GOR
Bhuana Patra Singaraja. Lomba itu dibuka Bupati Buleleng Putu Agus
Suradnyana didampingi Wabup dan pejabat Muspida.
Sepanjang perjalanan, lomba berjalan dengan lancar. Yang istimewa,
setiap regu mendapat pengamanan yang cukup ketat, terutama regu dari
Banyuning. Ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya
hal-hal buruk di tengah jalan. Pasalnya, sehari sebelumnya sempat
terjadi ketegangan antara kelompok warga dari Kelurahan Banyuning dan
warga di Peguyangan, Kelurahan Astina.
Yang cukup mengganggu, lomba gerak jalan ini diwarnai konvoi kendaraan
dari suporter yang rawan memancing kerusuhan. Masing-masing regu gerak
jalan ini diikuti para pendukung dengan konvoi sepeda motor dan mobil
mengikuti dari belakang. Tak hanya itu, para pendukung regu gerak jalan
ini membawa mobil yang dihiasi bendera kebesaran organisasi atau wilayah
yang diwakili dan dilengkapi suara musik untuk menambah semangat regu
gerak jalan yang bertanding. Pendukung yang membawa motor juga kerap
menggeber gas kendaraannya dengan keras.
Kabag Ops. Polres Buleleng Kompol Ida Bagus Wedanajati mengatakan,
kendati diwarnai dengan aksi konvoi sepeda motor, namun pelaksanaan
gerak jalan berjalan cukup tertib, aman dan lancar. Menurutnya,
pengamanan regu gerak jalan itu sangat ketat karena polisi ingin
memberikan pelayanan pengamanan optimal kepada setiap regu gerak jalan,
sehingga bisa menyelesaikan perlombaan dengan baik.
Ia membantah bahwa pengamanan ketat ini tidak ada kaitannya dengan kasus
Banyuning-Peguyangan beberapa hari lalu. "Yang jelas, pengamanan sudah
menjadi tanggung jawab aparat Polri bersama TNI dan tidak ada permintaan
dari siapa pun," katanya.
Sumber : Bali Post
Hal tersebut
diungkapkan Bambang Guritno, Kepala Badan Konstruksi Kementerian PU,
ketika mengunjungi proyek pembangunan Bendungan Titab, 11 Januari 2011,
di Buleleng, Bali.
Bendungan titab yang
berlokasi di Desa Ularan dan Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt serta
Desa Busungbiu, Desa Telaga dan Desa Titab, Kecamatan Busungbiu,
Kabupaten Buleleng, merupakan bendungan dengan tipe urugan batu random
dengan inti tegak. Dengan luas genangan 68,83 ha dan volume tampungan
total 12,8 juta m3 dan pembebasan lahan 138 ha (Pemerintah Pusat 50%,
Provinsi 35% dan Kabupaten 15%).
“Pengadaan tanah harus
dipantau dan dikoordinasikan dalam pelaksanaannya agar tidak mengganggu
pekerjaan konstruksi khususnya pada pengambilan bahan quary (clay dan
batu) di lokasi tersebut,” jelas Bambang Guritno.
Kegiatan yang saat ini
sedang dilaksanakan adalah conduit pengelak, bangunan pelimpah
(spillway), bendungan pengelak (cofferdam) dan bendungan utama.
Pembangunan bendungan titab di Kabupaten Buleleng dilaksanakan selama 4
tahun (2011-2014) dengan dana APBN melalui Balai Wilayah Sungai (BWS)
Bali Penida Direktorat Jenderal SDA Kementerian Pekerjaan Umum sebesar
Rp. 400.789.900.000.(datin SDA).
Sumber :














